Selasa, 10 Januari 2012

MANUSIA DAN KEGELISAHAN



  PENGERTIAN KEGELISAHAN 
 http://www.artikata.com

         Kegelisahan atau kecemasan adalah sebuah kondisi suasana hati yang dapat terjadi tanpa ada rangsangan pemicu dari luar. Dengan kata lain, kegelisahan merupakan perasaan batin yang muncul dari rasa kekhawatiran yang ada dalam benak orang yang bersangkutan.
         Kegelisahan berbeda dengan ketakutan. Rasa takut diakibatkan oleh penyebab dari luar yang nyata pada saat itu (misalnya: rasa takut ketika berada di tempat gelap dan sepi di waktu malam, atau sedang menghadapi suatu ancaman); sedangkan perasaan gelisah timbul dari angan-angan hati dan menyangkut sesuatu yang belum terjadi atau akan datang (misalnya: gelisah tentang masa depan, atau tentang sesuatu hasil yang sangat diharapkan).
        Kegelisahan berdampak secara fisik maupun emosi serta mempengaruhi perilaku. Seseorang yang gelisah terus-menerus sehingga mencapai tingkat yang melampaui ambang batas toleransi dapat mengakibatkan orang itu jatuh sakit, bahkan bisa meninggal dunia apabila kegelisahannya sampai mempengaruhi kesehatan jantung sehingga mengalami serangan jantung akut. Orang yang sedang gelisah juga tampak jelas dari perilakunya yang antara lain berubah menjadi pendiam, murung, dan mengasingkan diri.
         Gelisah itu hiasan hidup. Dalam batasannya yang wajar ia bisa menyemangati. Sebab dengan gelisah kita jadi bisa bergeliat. Maka gelisah seperti ini adalah awal dari semua kebangkitan. Gelisah adalah potensi yang melekat pada diri kita secara penciptaan. Bahwa kita mempunyai modal untuk gelisah secara anatomic. Tetapi yang menbedakan adalah bagaimana kita menghadapi gelisah itu dan seperti apa kita menindaklanjutinya.  

      Gelisah atas bahagia orang lain adalah penyakit kehidupan yang lahir dari pandangan dangkal dan perasaan yang keliru. Ini tentang seperti apa kita memandang. Ini tentang apa kita merasakan. Seperti apa pandangan dan perasaan kita tentang diri kita dan tentang orang lain dimata kita akan sangat berpengaruh bagi pilihan sikap kita serta sangat turut andil dalam proses membentuk perilaku kita.  
         
        Ada orang yag gelisah akan bahagia orang lain. Dan itu seperti perilaku yang tak mudah untuk dimengerti. Bahagia seseorang adalah kesenangan untuk dirinya, sedang bagi orang lain yang melihat seringkali mengalami gelisah.    

  http;//www.dadangkadarusman.com     
         Di dunia ini tidak ada seorang manusia pun yang tidak merasakan kegelisahan. Kalau kita melihat seluruh makhluk yang hidup di muka bumi ini akan kita dapati bahwa manusia dengan tabiatnya senantiasa dipengaruhi oleh kompleksitas ketakutan yang menuntunnya ke ambang kegelisahan.
         Orang-orang di sekeliling kita—bahkan dalam diri kita sendiri—, baik besar, kecil, laki-laki maupun perempuan, semuanya merasakan ketakutan atau kegelisahan; kegelisahan merupakan fenomena umum dan ciri khas yang hanya dimiliki manusia. Hal ini kiranya memerlukan semacam kesadaran dari kita guna memikirkan kiat-kiat untuk menghindarinya, paling tidak dengan itu kita bisa membayangkan kejadian-kejadian yang belum terjadi dan bagaimana cara menanggulanginya. Sebab pada hakikatnya kegelisahan merupakan reaksi natural terhadap faktor-faktor dan pengaruh-pengaruh internal maupun eksternal.

         Tabiat kehidupan dunia adalah penderitaan, kesedihan dan kesusahan. Kondisi-kondisi yang meliputi manusia tidak pernah ‘kering’ dari kesedihan atas masalah yang telah dilalui, atau kegelisahan atas masalah yang sedang menghantui, atau kecemasan atas masalah yang akan diarungi.
        Tentu saja kegelisahan yang dialami setiap orang tidaklah sama, tergantung kepribadian, kebutuhan, keadaan, dan tanggung jawab masing-masing. Di samping kondisi masa kini serta tingkat keberagamaan mereka.
        Di masa lalu marabahaya yang ditakutkan berupa kelaparan, penyakit, perbudakan, peperangan dan bencana-bencana alam yang menggiring manusia kepada kegelisahan. Sementara saat ini terdapat banyak sekali motif yang menjadi pemicu ketakutan. Secara garis besar seiring dengan komplikasi peradaban, cepatnya laju perkembangan teknologi dan sosial, sulitnya untuk beradaptasi dengan pembentukan budaya yang sangat mengejutkan, perubahan-perubahan besar yang terjadi pada alam atau negara-negara atau setiap individu dari kita, perselisihan dalam rumah tangga, sulitnya mewujudkan keinginan-keinginan pribadi karena godaan-godaan dan cobaan-cobaan hidup yang semakin kuat, lemahnya nilai-nilai keagamaan pada sebagian orang yang mana merupakan faktor terpenting dan utama, lahirnya banyak ideologi dan konflik, benturan pemikiran dan kebudayaan, bahkan enggannya sebagian orang untuk menjalankan ajaran-ajaran agama, munculnya upaya-upaya untuk menjauhkan agama dari kehidupan manusia serta ketidakjelasan tujuan, seiring dengan itu semua, kegelisahan datang menghimpit banyak orang sehingga ia menjadi penyakit jiwa yang umum terjadi dan sekaligus menjadi pemicu bagi timbulnya penyakit-penyakit jiwa lainnya.
         Selain itu, bertambahnya tingkat ketergantungan terhadap dunia berikut materi-materinya telah menjadi ancaman terbesar bagi manusia, yang mana dia menjadi sasaran empuk ketakutan dan kegelisahan.
          Kegelisahan dan ketakutan yang terjadi secara berulang-ulang seperti ditegaskan oleh banyak peneliti akan berakumulasi di dalam diri manusia hingga meluap dan efek-efeknya dapat dirasakan oleh tubuh. Sebagaimana endapan lumpur yang terus-menerus mengikuti alur sungai untuk kemudian berakumulasi secara perlahan di dasarnya, dan ketika kuantitasnya melebihi daya tampung alur sungai tersebut, maka ia akan merubah alur sungai yang membawanya itu sehingga terjadilah banjir yang menyebarkan marabahaya dan kerugian.

      Kegelisahan tidak lain adalah reaksi natural psikologis dan phisiologis akibat ketegangan saraf dan kondisi-kondisi kritis atau tidak menyenangkan. Pada masing-masing orang terdapat reaksi yang berbeda dengan yang lain, tergantung faktor-faktornya, dan itu wajar. Adapun bahwa manusia selalu merasa gelisah hingga membuatnya mengeluarkan keringat dingin, jantungnya berdetak sangat kencang, tekanan darahnya naik pada kondisi apa pun maka ini sebenarnya sudah melewati batas rasional.
       Sebenarnya terdapat “kegelisahan” yang dibutuhkan untuk menumbuhkan semangat dalam menghadapi tantangan, untuk menjaga keseimbangan dinamika internal atau untuk meneguhkan diri, bahkan untuk menggapai ketenangan jiwa yang merupakan tujuan setiap manusia dan untuk meraih kesuksesan dalam mengarungi kehidupan. Inilah yang disebut dengan “kegelisahan positif”.
      “Kegelisahan positif” merupakan dasar kehidupan atau sebagai kesadaran yang dapat menjadi spirit dalam memecahkan banyak permasalahan, atau sebagai tanda peringatan, kehati-hatian dan kewaspadaan terhadap bahaya-bahaya atau hal-hal yang datang secara tiba-tiba dan tak terduga. Ia juga merupakan kekuatan dalam menghadapi kondisi-kondisi baru dan dapat membantu dalam beradaptasi. Singkatnya, ia merupakan faktor penting yang dibutuhkan manusia. Sedangkan “kegelisahan negatif” jelas sangat membahayakan, seperti gula pada darah; ketika ketinggian kadarnya membahayakan kesehatan manusia.
 
PENYEBAB KEGELISAHAN 

Dalam persepsi tersendiri kesempitan dan kegelisahan itu dapat disebabkan oleh tiga hal, yaitu:

1. Sebab dosa yang diperbuat oleh seorang hamba
        Apabila Anda mengalami kondisi semacam itu, Anda harus menghadapinya dengan ilmu, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Swt. kepada Anda. Yakni, ketika seseorang berbuat dosa, maka harus segera bertaubat, memohon ampun kepada Allah dengan sungguh-sungguh, mencabut kesalahan dan dosanya itu dengan janji tidak akan mengulanginya lagi.

2. Sebab kehilangan atau berkurangnya harta dan persoalan kehidupan lainnya
         Sedangkan mengenai urusan dunia Anda yang hilang atau berkurang, maka Anda harus menyerahkannya kepada Allah dan ridha dengan pembagian yang telah ditetapkan oleh Allah swt.

3. Karena seseorang dizalimi oleh orang lain baik mengenai harta, keselamatan jiwa dan pencemaran harga diri atau kehormatannya
        Adapun dalam hal kezaliman yang menimpa Anda, maka Anda harus bersabar dan berusaha tahan dalam menerima yang tidak menyenangkan, seraya terus berusaha mencari akar permasalahannya dan menyelesaikannya secara arif dan bijaksana. Hindarkan diri Anda dari berbuat kezaliman yang sama, agar Anda tidak terkena dua kezaliman, yaitu kezaliman dari orang lain dan kezaliman dari diri Anda sendiri. Jika Anda mampu bersabar dan tidak menghadapi kezaliman itu dengan kezaliman pula, maka Anda akan mendapatkan anugerah besar berupa kelapangan dada, sehingga Anda tidak keberatan untuk memberikan pengampunan. 
        Dengan begitu, Anda akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah swt. Cahaya kesabaran Anda itu akan merefleksikan sinar yang menerangi dan menyadarkan orang yang berlaku zalim kepada Anda. Ini, merupakan anugerah besar bagi Anda, sehingga Anda termasuk dalam derajat orang-orang yang baik dan benar (para siddiqin). Bertawakallah kepada Allah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal dan berserah diri kepada-Nya.
Sedangkan apabila Anda ditimpa kesempitan, kesulitan dan kesusahan, sementara Anda tidak mengetahui penyebabnya, maka kedatangan kesempitan dan kegelisahan itu, bagaikan kedatangan siang dan malam, maka Anda harus menghadapinya dengan tenang dan tidak panik.

Tenang dalam hal ini ada tiga macam, yaitu:
1. Tenang, dengan tidak mengucapkan perkataan yang tidak berkenan
2 . Tenang dari gerak dan sikap
3. Tenang dari iradah (kekuasaan) untuk mengusirnya

       Jika Anda dapat menghadapinya dengan begitu, maka dalam waktu dekat, kegelapan malam itu akan berganti dengan terbitnya matahari di pagi hari, atau segera muncul bintang yang bisa menerangi Anda, muncul rembulan yang menyinari kegulitaan malam. Bintang yang dimaksud adalah ilmu, rembulan ketauhidan dan matahari kema’rifatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar