Dalam mewujudkan setiap cita-cita yang diinginkan seseorang, semuanya harus dengan usaha dan proses yang panjang. Kerap kali orang yang cerdas dapat menempuh jalan yang berliku untuk mencapai citanya, kebalikannya justru orang yang biasa-biasa saja dapat meraih citanya hanya dengan mengandalkan keberuntungan atau biasa disebut --sudah takdirnya.
Sebuah tulisan yang mengangkat cerita dari banyak arti tentang kehidupan. Salah satu keunikan yang dialami oleh manusia ialah mereka bahkan tidak tahu siapa dirinya, terkadang perasaan bodoh yang tidak mengenal dirinya sendri itu timbul dalam sebuah proses dari sekian proses nyata dikehidupan dunia ini. Kehilangan jati diri yang berarti hilang pula jiwa terangnya, hal itu membuat banyak orang merasa dirinya lelah dengan peluh bergelut dalam rutinitas dunia yang fana.
Menurut saya pribadipun beberapa hal yang sering kita acuhkan justru membawa arti besar untuk belajar menjalani hidup. Tutur kata itu perlu diatur dan diharmonisasikan, agar kita dapat bersosialisasi dengan baik meskipun manusia memang tidak ada yang luput dari kesalahan. Diam adalah sebuah komunikasi yang sangat perlu kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, terkadang diam lebih banyak manfaatnya daripada banyak berkomunikasi tanpa memikirkan perasaan seseorang. Terlebih lagi bila kita diam dalam hal yang positif, namun jangan sesekali anda diam untuk menutupi sesuatu yang tidak seharusnya di lupakan begitu saja dalam arti membuat kesalahan yang sangat merugikan diri sendiri terutama orang banyak.
Demi hidup yang sejahtera dan bahagia kita juga memerlukan sebuah kata yang berjuta artinya--cinta. Suguhkanlah sebutir mutiara yang asli diambil dari dasar laut terdalam dengan secangkang kerangnya kepada seseorang, maka kita dapat menghargai cinta yang begitu sulit dimiliki namun dengan mudah kita memberikannya kepada seseorang. Karena itu cinta adalah ketulusan dengan berjuta paket keindahan dan keistimewaannya tanpa mengharap sesuatu yang diinginkan oleh ego manusia.
SELAMAT JALAN AYAH
Renungan untuk hari ini.
Bukan dengan harta apapun menciptakan kasih sayang. Bukan pula dengan dunia dan seisinya, kasih sayang itu adalah zat yang di anugerahi oleh Tuhan untuk semua umatnya agar kita sebagai manusia selalu menghargai sesama khususnya diri sendiri.
Malam ini aku melihat ayah duduk di lantai yang beralaskan karpet tua berwarna biru. Sekejap mataku tertuju padanya, matanya mulai terlihat lelah di samping radio yang suaranya kini semakin rusuh tersoak-soak. Lagu itu salah satu kesukaannya--Broeri Ramantika. Aku melihatnya dari balik pintu kamarku ia berulang kali menguap, lengkap dengan kain sarung lusuhnya aku terpaku merasakan lelahnya.
Sekelebat pikiran ini mulai berselancar tanpa aku sadari ini bukan keinginanku. Aku membayangkan bagaimana jika ibu sudah tiada? apakah aku bisa menjaga ayah? menggantikan ibu yang merawat ayah selama ini tidaklah mudah. Dengan cepat gerakan tanganku menutup pintu yang ganggangnya tergolek sebab sudah lama rusak dan belum pernah diperbaiki. Aku meneteskan airmata melihat ayah yang sudah tua dan ibu yang tegar merawat aku dan ayah.
Seseorang mengetuk pintu kamarku. Ternyata ibu kali ini yang membangunkanku untuk segera bersiap pergi ke surau. Ibu sering sekali mengingatkan aku bahwa ibadah yang tulus itu tidak harus dipaksa terlebih dahulu baru mau melakukannya, itu namanya tidak ikhlas. Aku mengerti seakan-akan aku tau bagaimana menjalani semuanya dengan ikhlas.
Subuh ini ayah semakin bersemangat menuntun kami pergi ke surau, ah barangkali ayah sedang senang hati. Terlihat wajahnya yang kemayu sendu serupa bintang pagi. Berjalan kaki menuju surau dengan menggenggam rangkaian butir tasbih. Sepanjang jalan itu aku memperhatikan ayah dengan sandal jepitnya yang dibolongi dengan paku lalu diikat dengan tali plastik. Andai aku segera lulus dari sekolahku esok, aku akan mencari pekerjaan agar aku bisa membelikan sandal baru untuknya. Ayah memang seorang pensiunan pegawai negeri, namun semua orang yang mengenal ayah kagum padanya. Aku dan ibu juga sangat beruntung memiliki ayah karena sikap bijaksana dan kelembutannya menyayangi keluarga.
Biasanya setelah pulang dari surau, aku membantu ibu memasak lalu aku segera bersiap untuk pergi ke sekolah. Namun hari ini aku libur tenang untuk menghadapi ujian nasional senin depan. Seperti biasanya aku mendengar lagu simphony itu dari radio kecil milik ayah. Benda yang selalu di perbaikinya karena sering rusak dimakan usia. Sesekali ku dengar suara wanita yang membawakan berita bencana alam atau kasus korupi yang melanda negeri ini.
"Yah, apa yang akan terjadi jika negeri ini tidak bisa lagi mengemban manusia-manusia serakah itu?."
"Inilah nyatanya kehidupan Nur. Ayah pasti akan melakukan hal demikian bila ayah tidak mempunyai iman dan keyakinan yang dipegang teguh."
"Apakah kita akan melalui masa sulit ini dengan ikhlas yah? atau kita hanya berdiam diri dalam ketidakcukupan ini?."
"Nur. Mengapa kamu bertanya demikian, nak. Ayah yakin kamu pasti tau jawabannya."
Ayah kembali mengutak-ngatik radio kusam itu. Suara dari dapur merncuri perhatianku dari tingkah laku ayah yang begitu tenang. Ibu memecahkan sebuah piring, aku kaget dan membantu ibu membersihkannya.
"Ibu tidak terluka kan?."
"Tidak Nur, ibu hanya merasa sedikit pusing. Apakah Nuri bisa bantu ibu ke kamar? ibu merasa tidak sanggup berjalan, lemas rasanya lutut ini."
"Apapun akan Nuri lakukan agar ibu sehat." Aku tidak dapat menahan airmata ini melihat kondisi ibu yang begitu pucat.
Hari ini biar aku saja yang berjualan di teras rumah. Biasanya ada bermacam kue di meja jualan ibu, tapi karena ibu sedang sakit ia tidak bisa membuat kue hari ini. Warung jualan ibu aku yang menjaganya bergantian dengan ayah. Senang rasanya bisa membantu kedua orang tua dengan ikhlas. Karena mereka selalu menasihatiku agar beryukur dalam hidup ini agar kelak tidak menjadi manusia yang serakah dan selalu kekurangan dalam jiwanya.Itulah kegelapan yang sesungguhnya.
Semua perkara sulit dihindari karena hampa rasanya dunia ini tanpa sebuah problematika beserta antek-anteknya. Ayah yang dulu gagah hingga kini pun menurutku ia laki-laki yang gagah dengan ketulusan dan kesetiaan yang selalu ada dalam jiwanya. Siapa yang tidak merindukan sosok seorang ayah dalam sebuah keluarga?. Karenanya kami tidak dapat setegar ini menjalani hidup.
Seminggu kemudian aku mendapati ayah tertidur di kasur kapuk yang menipis, waktu itu aku baru saja pulang dari sekolah. Sekian jam aku bergelut dengan soal-soal yang pastinya membuat kami peserta ujian pusing. Sebelum pergi pun aku memohon doa kepada ayah dan ibu, aku mencium keduanya seperti akan segera terbang menghilang. Ayah sakit rupanya. Jelas saja aku tidak mendengar suara soak radio ayah, benda itu ternyata rusak lagi dan lagi. Aku berlari membawa benda rongsokan yang berarti bagi ayah ke rumah Pak Dani. Ia adalah seorang ahli mesin yang terkenal di daerah kami, namun sayang ia tidak memanfaatkan keahliannya merakit teknologi di sebuah perusahaan besar. Itulah ciri beliau, tidak ingin mendapatkan harta yang berlimpah dari keahliannya, justru sebaliknya ia manfaatkan ilmunya untuk membuat usaha sendiri di gudang rumahnya dan merekrut banyak pegawai dai lulusan SMK.
"Pak, saya mau memperbaiki radio ayah ini, selalu rusak kalau volumenya di naikkan."
"Nur,Nur. Kamu ini memang gadis yang keras kepala. Apakah ayahmu tahu kamu bawa radionya kemari.?" Pak tua itu sepertinya mengetahui sesuatu.
Aku menyodorkan benda itu kepada Pak Dani, beserta kantong plastik untuk membuat es batu yang berisikan uang logam dan uang kertas seribuan. Ya. Semuanya adalah hasil tabunganku selama dua bulan, aku terpaksa memecahkan celengan dari tanah liat yang dibelikan ibu waktu ke pasar ikan. Dengan senang hati ia memperbaikinya dan menerima kantong itu berapapun isinya meski aku rasa tak cukup untuk membayar upahnya.
Keesokan harinya aku pulang ujian langsung menuju tempat Pak Dani. Mengambil sebuah radio, pegawainya yang memberikannya padaku, tetapi ada yang berbeda. Aku girang bukan main mengetahui ternyata radionya diganti yang baru oleh beliau. Berlari-lari kecil aku terhambat oleh rok abu-abu yang panjang, aku tidak bisa mengungkapkan rasa senang ini ketika nanti melihat wajah ayah yang melemparkan senyumnya yang merekah.
Tersentak aku membuang tas jinjingku di depan teras. Sekeras-kerasnya aku menangis seakan inilah akhir dari perjuanganku membahagiakan seorang ayah. Aku termenung kaku meletakkan radio baru milik ayah di samping jenazahnya. Kerumunan itu memenuhi rumah kami, dari situlah aku mengerti betapa ayah disegani banyak orang. Aku melihat Pak Dani duduk di depan teras, baru aku sadari Pak Dani memang sudah lama berniat memberikan radio baru itu kepada ayah. Apalah artinya sebuah istana jika sang raja sudah tak menduduki kursi tahtanya lagi. Apalah artinya sebuah sarang lebah tanpa seekor ratu yang memimpinnya. Apalah arti lautan jikalau tanpa bermiliaran jenis ikan di kedalaman laut.
Langit mulai berwarna oranye dan merah kebiruan dalam senja. Aku dan ibu pulang setelah mengantar ayah ke tempat peristirahatannya. Sepulang dari pemakaman aku tidak menangis lagi, aku mengingat-ingat kembali nasihat ayah. Manusia bila sudah waktunya akan kembali ke tempat yang semestinya.
Dunia bukanlah segalanya, namun usaha dan ketulusan itu penting untuk tetap menjalani hidup. Sesuatu yang aku citakan memang belum diizinkan oleh Tuhan. Aku mengambil hikmah dari semua proses kehidupan ini. Kini aku dan ibu tetap menjalani hidup seperti biasanya walaupun belum terbiasa tanpa seorang ayah. Setiap hari kami selalu mendoakan beliau.
Ayah, aku mencintai dengan ketulusan dan keikhlasan padamu dan hanya karena Allah.
Yosy Tamara Geralldine.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar